DIY Akhiri Tahun 2025 dengan Inflasi Terkendali, Bank Indonesia Tegaskan Stabilitas Harga Tetap Terjaga
5 mins read

DIY Akhiri Tahun 2025 dengan Inflasi Terkendali, Bank Indonesia Tegaskan Stabilitas Harga Tetap Terjaga


Inflasi DIY/Foto: Freepik

KabarJawa.com– Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menutup tahun 2025 dengan kinerja inflasi yang tetap terkendali di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi, lonjakan konsumsi masyarakat, serta dinamika global.

Bank Indonesia Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan stabilitas harga tetap terjaga berkat sinergi kuat antara pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dan seluruh pemangku kepentingan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo, menegaskan bahwa capaian inflasi DIY pada akhir tahun mencerminkan keberhasilan kebijakan pengendalian harga di tengah tekanan musiman Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada Desember 2025 mencatat inflasi bulanan sebesar 0,65 persen (month to month/mtm).

Angka tersebut lebih tinggi daripada inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,27 persen (mtm) pada November 2025.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Meski demikian, secara tahunan DIY tetap mencatat inflasi yang terkendali sebesar 3,11 persen (year on year/yoy). Ini masih berada dalam rentang target sasaran inflasi nasional tahun 2025.

Kinerja Inflasi Antarwilayah di DIY

“Peningkatan inflasi pada Desember merupakan pola musiman yang wajar, terutama akibat meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat pada momen libur panjang akhir tahun,” ujar Sri Darmadi Sudibyo.

Ia menambahkan bahwa inflasi tahunan Desember 2025 memang sedikit lebih tinggi daripada November 2025 yang tercatat sebesar 2,92 persen (yoy). Namun, kondisi tersebut tetap menunjukkan stabilitas ekonomi daerah yang solid.

Berdasarkan kota IHK, Kota Yogyakarta mencatat inflasi bulanan sebesar 0,53 persen (mtm) pada Desember 2025 dengan inflasi tahunan mencapai 3,33 persen (yoy).

Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul mengalami inflasi bulanan yang lebih tinggi sebesar 0,74 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,93 persen (yoy).

Perbedaan tersebut mencerminkan variasi pola konsumsi, distribusi pasokan, serta intensitas aktivitas ekonomi di masing-masing wilayah.

Bank Indonesia mencatat bahwa peningkatan inflasi Desember 2025 terutama bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,66 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,47 persen (mtm).

Meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas masyarakat selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mendorong lonjakan permintaan pangan strategis.

Kenaikan harga terutama terjadi pada cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), 0,06 persen (mtm), dan 0,04 persen (mtm).

Curah hujan yang tinggi sepanjang Desember 2025 menekan produksi cabai rawit dan cabai merah, sehingga pasokan menjadi terbatas. Di sisi lain, masyarakat meningkatkan konsumsi daging ayam ras seiring tingginya aktivitas perayaan akhir tahun.

Emas Menguat, Inflasi Jasa Ikut Meningkat

Selain pangan, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya turut mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 1,83 persen (mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen (mtm). Kenaikan tersebut terutama berasal dari meningkatnya harga emas perhiasan.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa harga emas global terus meningkat seiring meningkatnya ketidakpastian global, yang tercermin dari naiknya Global Risk Index dan Geopolitical Risk Index.

Kondisi ini mendorong masyarakat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Dari sisi transportasi, inflasi tercatat sebesar 0,38 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,05 persen (mtm).

Bank Indonesia mengaitkan kenaikan tersebut dengan kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku secara nasional pada 1 Desember 2025, termasuk di wilayah DIY.

Di tengah tekanan inflasi, sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi.

Komoditas kelapa, buncis, dan ketimun mencatat deflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), 0,01 persen (mtm), dan 0,01 persen (mtm).

Ketersediaan pasokan kelapa yang terjaga serta permintaan yang relatif terbatas mendorong penurunan harga.

Sementara itu, normalisasi harga dan stabilnya pasokan menyebabkan harga buncis dan ketimun kembali turun setelah sempat naik pada bulan sebelumnya.

Sinergi TPID

Bank Indonesia DIY bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga.

Upaya kolaboratif tersebut membuahkan hasil nyata dengan diraihnya Juara II TPID Provinsi Berkinerja Terbaik se-Kawasan Jawa Bali pada ajang TPID Award 2025.

Sri Darmadi Sudibyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi aktif dalam pengendalian inflasi daerah.

“Capaian ini menunjukkan bahwa sinergi dan konsistensi kebijakan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat,” tegasnya.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan inflasi DIY pada tahun 2026 tetap terjaga dalam kisaran target 2,5 persen ± 1 persen (yoy).

Optimisme tersebut didukung oleh komitmen kuat TPID DIY dalam melanjutkan pengendalian inflasi melalui implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dalam kerangka 4K, yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Program strategis yang terus diperkuat meliputi operasi pasar dan pasar murah, optimalisasi Kios Segoro Amarto serta Warung MRANTASI sebagai price reference store, kampanye belanja bijak, serta penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) baik antarprovinsi maupun intra provinsi untuk menjamin pasokan pangan strategis.

Berbagai gerakan sosial masyarakat yang mendorong efisiensi distribusi komoditas turut memperkuat fondasi stabilitas harga di DIY.

Dengan fondasi sinergi yang kuat dan kebijakan yang konsisten, DIY menutup tahun 2025 dengan optimisme tinggi dan melangkah mantap menyongsong 2026 dengan inflasi yang tetap terjaga dan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (ef linangkung)

Agen234

Agen234

Agen234

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel

News

Breaking News

Berita