BPPTKG Ungkap Runtuhnya Bagian Kubah Lava 1911 Gunung Merapi, Aktivitas Vulkanik Tetap Tinggi Selama 30 Januari–5 Februari 2026
KabarJawa.com— Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengungkap runtuhan pada bagian kubah lava 1911 Gunung Merapi selama periode pengamatan 30 Januari hingga 5 Februari 2026.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa fenomena tersebut menunjukkan dinamika vulkanik Gunung Merapi yang masih aktif dan perlu terus diwaspadai oleh seluruh pihak.
BPPTKG menyampaikan temuan tersebut berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental secara intensif melalui jaringan pemantauan Gunung Merapi.
Laporan resmi mencatat bahwa aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan menempatkan status Gunung Merapi pada Level III atau SIAGA.
Runtuhan Kubah Lava Gunung Merapi
Selama periode pengamatan, BPPTKG mencatat kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara kabut tebal menyelimuti kawasan puncak pada siang hingga sore hari. Faktor cuaca tersebut menyebabkan petugas tidak dapat mengamati asap kawah secara optimal.
Meski demikian, aktivitas permukaan tetap menunjukkan peningkatan signifikan. BPPTKG mencatat lima kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum hingga 2.000 meter yang mengarah ke hulu Kali Boyong dan Kali Sat atau Kali Putih.
Selain itu, aktivitas guguran lava juga terus terjadi. Petugas mengamati beberapa kali guguran lava.
- Ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak maksimum 1.800 meter
- 29 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh 2.000 meter
- Lima kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh 1.800 meter
- 26 kali ke arah hulu Kali Sat atau Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter.
Analisis morfologi kubah lava melalui kamera pemantauan Ngepos dan Babadan 2 menunjukkan adanya perubahan signifikan.
BPPTKG menemukan perubahan morfologi pada kubah barat daya akibat dinamika volume kubah dan aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Sebaliknya, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang berarti. Namun, analisis area puncak dari kamera Ngepos secara jelas memperlihatkan berkurangnya bagian kubah lava 1911 akibat runtuhan.
Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, BPPTKG mencatat volume kubah barat daya mencapai 4.171.800 meter kubik, sementara volume kubah tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Perubahan ini menegaskan bahwa suplai magma masih aktif dan terus memengaruhi stabilitas kubah lava Gunung Merapi.
Aktivitas Kegempaan Menurun
Selama periode pengamatan tersebut, jaringan seismik BPPTKG merekam 5 gempa Awan Panas Guguran (APG), 6 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 549 gempa Fase Banyak (MP), 1 gempa Low Frequency (LF), 688 gempa Guguran (RF), serta 18 gempa Tektonik (TT).
BPPTKG mencatat bahwa intensitas kegempaan pada periode ini lebih rendah daripada minggu sebelumnya. Namun, pola kegempaan selama tiga bulan terakhir masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang fluktuatif dan berpotensi memicu kejadian susulan.
Pemantauan deformasi Gunung Merapi menggunakan metode Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) menunjukkan kondisi relatif stabil.
BPPTKG mencatat jarak EDM sektor barat laut dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2 berada pada kisaran 3.840,336 meter hingga 3.840,339 meter.
Sementara itu, data baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. Data tersebut menunjukkan tidak adanya perubahan deformasi yang signifikan selama periode pengamatan.
BPPTKG juga mencatat kejadian hujan di sekitar Gunung Merapi. Intensitas hujan tertinggi terjadi pada 3 Februari 2026 di Stasiun Pasarbubar. Curah hujan mencapai 29,83 mm per jam selama 104 menit.
Hingga laporan ini diterbitkan, BPPTKG belum menerima laporan mengenai penambahan aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Berdasarkan seluruh hasil pengamatan, BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi.
BPPTKG menetapkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Untuk memperoleh informasi resmi dan terkini, masyarakat dapat mengakses Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, situs resmi BPPTKG dan MAGMA ESDM, aplikasi Magma Indonesia, media sosial BPPTKG, frekuensi radio VHF 172.000 MHz, atau langsung menghubungi kantor BPPTKG di Yogyakarta. (ef linangkung)
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita