Komunitas Cattleya Buktikan Usia Bukan Halangan untuk Tetap Berkarya
Yogyakarta, KabarJawa.com – Pameran Pesona Keragaman Indonesia menjadi ruang bagi para perempuan perupa dari Komunitas Cattleya Jakarta untuk menunjukkan bahwa usia bukan batas untuk terus belajar, berkarya, dan menyuarakan pandangan tentang kehidupan melalui seni.
Pameran seni rupa bertajuk Pesona Keragaman Indonesia digelar di Rumah DAS, Yogyakarta, pada 5–11 September 2026.
Melalui karya yang ditampilkan, para anggota Komunitas Perempuan Bebas Berekspresi Cattleya Jakarta merekam beragam realitas sosial dan budaya Indonesia dengan sudut pandang personal mereka.
Komunitas ini beranggotakan perempuan yang sebagian besar telah memasuki usia 58 tahun ke atas.
Namun, perjalanan usia justru tidak menghentikan mereka untuk terus mengasah kemampuan seni dan menghadirkan karya yang merefleksikan pengalaman hidup, keberagaman, hingga semangat kebangsaan.
Pembukaan pameran berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026. Acara dibuka oleh Ketua DPD PERSIKINDO DIY, Ir. Yani Ambar, dan turut dimeriahkan dengan penampilan line dance bersama anggota Komunitas Cattleya.
Selama pameran berlangsung, masyarakat dapat mengunjungi Rumah DAS setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.30 WIB.
Membaca Indonesia Lewat Kanvas

Karya-karya yang dipamerkan membawa pengunjung melihat Indonesia dari beragam perspektif. Ada yang berbicara tentang budaya, kehidupan sosial, identitas perempuan, hingga keberagaman yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara.
Bagi para perempuan perupa Cattleya, kanvas tidak sekadar menjadi medium untuk menghasilkan gambar. Seni juga menjadi cara untuk menjaga kepekaan dalam membaca lingkungan dan pengalaman hidup.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul “Rumah Batik Ceria” karya Yani Ambar. Melalui lukisan tersebut, Yani mencoba menyampaikan optimisme melalui representasi budaya Indonesia, khususnya batik.
Menurut Yani, batik dengan beragam warna dalam karyanya tidak hanya dimaksudkan sebagai elemen visual, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga semangat dalam menghadapi berbagai keadaan.
“Indonesia punya budaya yang luar biasa, khususnya batik. Kami tampilkan dengan berbagai warna dengan tujuan menghadirkan keceriaan, bahwa Indonesia selalu ceria dalam menghadapi situasi apa pun. Dengan kondisi apa pun, kita harus tetap ceria, semangat, dan penuh dengan karya,” kata Yani Ambar saat ditemui dalam pembukaan pameran.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam pameran Pesona Keragaman Indonesia. Keberagaman budaya tidak hanya dipahami sebagai perbedaan, tetapi juga sebagai kekayaan yang dapat terus melahirkan ekspresi dan karya baru.
Usia 63 Tahun Tetap Aktif Berkarya
Semangat untuk terus menghasilkan karya juga tercermin dari perjalanan pribadi Yani Ambar. Di usia 63 tahun, ia masih aktif melukis dan terlibat dalam berbagai kegiatan seni bersama perempuan perupa lainnya.
Bagi Yani, berkarya bukan semata-mata tentang menghasilkan lukisan. Ada keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang dapat menjadi inspirasi dan bekal bagi generasi berikutnya.
“Dengan usia saya 63 tahun, alhamdulillah saya tetap bersemangat untuk membuat suatu karya yang nantinya bisa menjadi bekal untuk anak bangsa kita. Ini juga bagian dari semangat membangun bangsa Indonesia,” ujarnya.
Ia juga mengaku mendapat energi dari lingkungan komunitas. Kehadiran perempuan-perempuan lain yang terus berkarya menjadi salah satu alasan semangat kreatif itu tetap terjaga.
“Saya didampingi oleh ibu-ibu yang punya karya yang juga luar biasa,” kata Yani.
Kehadiran komunitas seperti Cattleya menunjukkan bahwa proses kreatif dapat terus berkembang pada berbagai fase kehidupan. Pengalaman panjang justru dapat menjadi sumber gagasan dan perspektif yang tidak selalu dimiliki oleh generasi yang lebih muda.
Pesan untuk Perempuan agar Tidak Berhenti Berkarya
Yani menitipkan pesan khusus kepada perempuan Indonesia, terutama mereka yang berada dalam rentang usia yang sama dengannya. Menurut dia, keterbatasan dan kesulitan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan keinginan dalam menghasilkan karya.
Ia mengajak perempuan untuk tetap percaya pada kemampuan diri dan tidak terlalu terpaku pada kekurangan yang dimiliki.
“Tetaplah berkarya, tetaplah bersemangat. Jangan peduli dengan kekurangan dan segala kesulitan, tapi tetap semangat memberikan hasil karya yang terbaik untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Komunitas Perempuan Bebas Berekspresi Cattleya Jakarta yang menjadi wadah bagi para perempuan untuk terus mengembangkan potensi artistik.
Sebagai ibu dan perempuan, para anggota komunitas membawa pengalaman hidup mereka ke dalam proses kreatif. Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan melalui warna, bentuk, dan berbagai pendekatan visual dalam karya seni.
Pameran Pesona Keragaman Indonesia pun tidak hanya menghadirkan hasil akhir berupa lukisan. Di balik setiap karya, terdapat proses panjang tentang keberanian untuk tetap belajar, menjaga rasa ingin tahu, dan membuka diri terhadap pengalaman baru.
Workshop dan Diskusi Terbuka untuk Umum
Selain pameran, rangkaian kegiatan Pesona Keragaman Indonesia juga menghadirkan workshop dan diskusi yang terbuka bagi masyarakat.
Pada 6 September 2026, digelar Workshop Menggambar/Melukis bersama Dyan Anggraini pukul 13.00 WIB di Rumah DAS. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan diskusi pukul 15.00 WIB.
Diskusi mengangkat tema “Eksplorasi Jiwa Seni dan Merancang Kontribusi Seni dalam Konteks Narasi Kebangsaan” dengan narasumber arsitek sekaligus penggiat budaya, Laretna T. Adishakti. Acara dipandu oleh Alviani Basalan sebagai moderator.
Rangkaian kegiatan ini menjadi upaya untuk membuka ruang percakapan mengenai posisi seni dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Melalui pameran, workshop, dan diskusi, Komunitas Cattleya ingin menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan lintas usia dan latar belakang.***
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.